Tampilkan postingan dengan label Rembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rembang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Pemilu 2014, pemilu pertama saya

Alhamdulillah, setelah lama akhirnya saya bisa ikut berperan serta dalam pemilu untuk pertama kalinya. Momennya pas aja habis UTS dimana biasanya ada waktu kosong seminggu. Saya bela-belain pulang kampung naik bus malam semalaman (yaiyalah, masak seharian, hehehe...). Sekalian pulang kampung, sekalian nyoblos, yeeeee...

Dulu waktu pilkada bupati 2010, saya belum bisa ikut karena umur belum genap 17 tahun, cuma kurang beberapa bulan saja, hikhikhik. Setelah itu, tahun 2011 sampai sekarang harus kuliah jauh dari kampung halaman. Jadinya beberapa pemilu seperti pemilu Gubernur Jateng dan pilkades terpaksa tidak bisa ikut.

Sebagai pemilu pemula, jujur saya sangat antusias dan senang karena dengan mengikuti pemilu ini saya bisa turut serta menyumbang suara sebagai bentuk demokrasi di negara Indonesia tercinta ini. Jadi kalau pemerintah hasil dari pemilu ini bagus, saya ikut berperan serta (walau Cuma satu suara, dan itu kalau yang  saya pilih menang, hahaha). Walaupun sebagai wong enom alias orang muda yang udah tau bagaimana keadaan pemerintahan sekarang, terutama dari korupsi dan suap di kalangan legislatif, eksekutif baik itu pusat maupun daerah, saya tetap optimis dan berharap Pemilu tahun 2014 ini dapat terlaksana dengan lancar, sukses, dan tentunya menghasilkan wakil wakil rakyat yang benar-benar mewakili suara rakyat dan pemerintahan yang benar-benar mengabdi kepada rakyat.

Munculnya tokoh-tokoh pembaharu

Dalam Pemilu 2014 ini sedikit banyak ada perbedaan dengan pemilu sebelumnya. Yah, pasti kita sudah tau sekarang lagi ramai-ramainya muncul tokoh tokoh baru yang bisa dianggap diluar kebiasaan tokoh-tokoh yang sebelumnya sudah ada. Seperti Jokowi dan Dahlan Iskhan. Hadirnya tokoh-tokoh muda yang merakyat banget ini setidaknya memberi gairah kepada kita-kita kaum muda (ceilee) untuk tetap optimis dengan pemerintahan lima tahun ke depan dan sebagai pemilih pemula tentunya memberi dorongan lebih untuk tidak melakukan golput.

Masih ada money politic, tapi masyarakat sudah mulai cerdas

Yang namanya pemilu di Indonesia sepertinya emang gak afdol kalau tanpa money politic. Mental-mental beberapa calon yang ingin meraup suara secara instan ditambah pendidikan politik masyarakat yang masih rendah membuat praktek money politic ini susah dihilangkan di masyarakat kita. Bahkan ada cerita lucu, dulu saat pemilu 2004, Bapak Saya yang waktu itu berperan sebagai Ketua KPPS didatangi orang tua yang dengan polosnya menanyakan uang baduman (bagi-bagi). Maklum saja, sebagian besar masyarakat di desa taunya ya kalau pemilu bagi-bagi uang.

Walaupun budaya ini masih saya temui di pemilu 2014 kali ini. Namun masyarakat mulai menanggapi secara cerdas tindakan money politic ini. Masyarakat sekarang cenderung ‘memanfaatkan’ money politic sekedar mencari uang, pilihan tetap sesuai yang mereka inginkan. Gimana lagi, hla wong dapat uang dari semua calon diterima semua, padahal kan suaranya cuma satu.

Bahkan ada bapak-bapak yang cerita sama saya saat nongkrong di warung kopi. Beliau menjadi salah satu simpatisan/tim sukses. Beliau bilang kalau dia menjadi simpatisan bukan murni sukarela, tapi emang diniatin mergawe alias cari uang. Ketika dia ditargetkan menyebar amplop 100 lembar, Beliau gak segan-segan motong 10 amplop.

“hla piye Mas, wira-wiri kan ya butuh bensin. Hla nak aku suka rela ya nak wes padha dadi wakil rakyat ya da lali karo janjine. Ketemu ning dalan nyapa wae ora” (Mau bagaimana Mas, mondar-mandir kan juga butuh uang. Kalau saya suka rela ya kalau udah jadi wakil rakyat lupa sama janjinya. Ketemu di jalan menyapa aja enggak)

Begitulah kira-kira pendapat Beliau. Menurut Beliau juga, keberhasilan suara yang didapat dari amplop tersebut gak bisa dijamin, tembus 50% saja sudah dianggap sangat baik.

Pola-pola seperti inilah yang saya harapkan dapat mengurangi money politic di Indonesia. Meskipun masih ada money politic, masyarakat sudah cerdas menanggapinya. Uang sekarang bukan menjadi jaminan. Harapan saya sih calon-calon pemimpin ke depan lebih dapat memberikan program-program dan solusi yang baik bagi masyarakat atas segala permasalahan yang ada, bukan malah menyuap masyarakat yang dimana jika di hitung-hitung lagi untuk mengembalikan uang tersebut, akhirnya mereka malah melakukan korupsi.

Harapan saya sih sederhana saja, semoga dengan adanya Pemilu seperti ini, selain sebagai bentuk kegiatan negara demokrasi, juga dijadikan sebagai pembelajaran bagi masyarakat kita bagaimana untuk memilih pemimpin yang baik dan tentunya memberi pelajaran bagi para calon pemimpin untuk lebih mementingkan memberikan harapan yang baik bagi masyarakat, bukan hanya iming-iming uang dan akhirnya menjadi pemimpin yang korupsi.

Rabu, 26 Februari 2014

Kopi Lelet, bagaimana cara ngleletnya?


Masih seputar kuliner nih, setelah postingan kemarin saya membahas apa itu Kopi Lelet. Kali ini saya mau berbagi sedikit tutorial (ciee, sok-sokan) bagaimana cara nglelet rokok pakai kopi. Seperti dipost saya kemarin, yang menjadi ke-khas-an Kopi Lelet ini yaitu ampas kopi yang dioleskan (bahasa Rembangnya : lelet) ke rokok.

Dalam hal ini (duh, bahasanya skripsi banget), alat maupun cara yang saya gunakan mungkin terlihat berbeda, tidak seperti yang ada di warung kopi. Kenapa bisa demikian (duh, skripsi lagi)? Karena saya juga masih amatiran plus ini saya praktikan bukan di warung kopi, jadi maaf ya Masbro Mbakbro kalau kelihatannya masih gak rapi, itu pakai-pakai piring segala. Anggaplah ini DIY=Do Your Self, hehehehe.

Berikut bahan-bahan yang perlu Masbro Mbakbro siapkan yaitu :

-Kopi Lelet yang sudah disedu
-Rokok yang bakal di lelet
-Krimer atau susu kental manis
-Tisu secukupnya (2-5 lembar)
-Piring atau tatakan cangkir/gelas.

Bahan utama : Kopi, Krimer/Susu Kental Manis, Rokok.


Kok ada tisu segala? Trus itu krimer buat apa? Sek...sek...sek, slow Masbro Mbakbro, entar Masbro Mbakbro juga bakal tahu sebenarnya buat apa bahan-bahan tersebut.

Kita mulai aja tahapan-tahapannya, mangga bekicot...

Pertama-tama, kopi yang udah disedu tadi Masbro Mbakbro habisin dulu sampai nyisa ampas kopinya.

Selanjutnya, tuang ampas kopi tadi di atas piring atau tatakan cangkir/gelas.

Tuangkan ampas kopinya


Kemudian keringkan ampas kopi tadi dari kandungan airnya. Nah, disini nih tisu berfungsi sebagai pengering. Ngeringinnya sampai ampas kopi mengendap.

dikeringkan dengan tisu

Setelah Kering

Setelah itu, tambahkan sedikit (aja) krimer, kemudian aduk-aduk sampai tercampur. Di sini krimer fungsinya sebagai perekat sekaligus penambah aroma.

Tambahkan sedikit krimer/susu kental manis


Kemudian, lelet-kan (oleskan) campuran ampas kopi dan krimer tadi ke rokok. Buat Masbro Mbakbro yang pertama kali mencoba mungkin akan sedikit kesulitan. Saran saya gunakan sendok teh (ukurannya yang kecil) untuk mengoleskan ke rokoknya. Ngolesinnya juga dikit-dikit aja. Ojo kesusu, hehehe....


Oleskan ke rokoknya


terakhir, angin-anginkan rokok terlebih dahulu biar kering.

Tunggu sampai kering


Simpel dan mudah kan? Tentunya Masbro Mbakbro bisa mempraktekan sendiri di rumah ketika sedang nyantai. Rasa dan bau ampas kopi dicampur krimer tentunya bakal menjadi sensasi berbeda buat Masbro yang rokok (Mbakbro jangan ikut-ikutan ya, hehehe).

Buat Masbro Mbakbro yang nggak ngrokok tentunya gak usah kawatir, nikmatin kopinya aja udah enak dan berbeda. Apalagi buat Masbro Mbakbro yang doyan ngopi, kudu coba Kopi Lelet, saya jamin bakal dapat sensasi yang berbeda.

Sampai di sini dulu sharing tentang Kopi Leletnya, semoga bermanfaat :)

Minggu, 16 Februari 2014

Kopi Lelet, kopi khas Rembang

Alhamdulillah, setelah satu bulan lebih gak coret-coret di blog, akhirnya saya bisa  coret-coret lagi. Sesuai salah satu janji saya di blog ini yaitu saya bakal cerita kuliner-kuliner yang pernah saya jumpai, khususnya di Bandung dan di Rembang. Untuk pertama kalinya saya akan membahas Kopi Lelet (Baca : kopi Lèlèt), minuman khas Rembang. Mungkin Masbro Mbakbro masih asing dengan kopi yang satu ini. Tapi buat Masbro Mbakbro yang tinggalnya di sekitar Rembang,saya jamin  udah nggak asing dengan Kopi Lelet.

orang lagi nglelet rokok (sumber)

Yak, budaya ngopi emang udah menjadi kebiasaan orang asia tenggara (katanya sih), terutama di Indonesia. Setiap daerah punya jenis kopi dan cara penyajiannya. Hla, Kopi Lelet inilah salah satu dari berbagai jenis tersebut. Ngopi menjadi salah satu cara relaksasi orang setelah capek berkutat dengan kegiatan sehari-hari. Selain nyruput kopi, orang bisa saling bertemu dan ngobrol dengan yang lainnya. Untuk di Rembang sendiri, Kopi Lelet udah menjadi salah satu identitas dan tradisi. Di jalan-jalan banyak ditemui warung kopi. Terutama di Kecamatan Lasem, yang emang tempat dimana pertama kali Kopi Lelet Lahir. Kopi Lelet sendiri mulai muncul sekitar akhir 90’an atau awal 2000’an (pastinya nggak tau) sebagai salah satu bentuk kreatifitas Wong Rembang.

Untuk jenisnya sendiri, Kopi Lelet sebenarnya nggak identik dengan jenis kopi tertentu (setau saya), tapi ciri khasnya, tekstur bubuk Kopi Lelet lebih halus dengan kopi yang lain. Kira-kira sehalus tepung terigu (gilingnya aja sampai tujuh kali lebih). Kalau Masbro Mbakbro baru mencoba, mungkin saat minum Kopi Lelet ampasnya akan terasa seperti ketika Masbro Mbakbro makan makanan yang terkena tanah, apalagi kalau nggak didiamin dulu.

Hla terus kenapa harus halus kayak gitu? Ini nih yang menjadi alasan kenapa namanya Kopi Lelet. Setelah Kopi Lelet diminum, sisa ampas kopi inilah yang kemudian dioleskan (bahasa jawanya : dilelet) di rokok. Tentunya nggak langsung dioleskan begitu saja. Pertama-tama, sisa ampas kopi dituang di lepek cangkir (piring kecil), kemudian sisa air yang masih ada dikeringkan dengan tisu (Masbro Mbakbro nggak usah heran kalau di warung Kopi Lelet banyak ditemui tisu gulung). Setelah kering, kemudian ditambahi sedikit krimer  yang biasanya disediain gratis oleh sang penjual. Krimer ini fungsinya sebagai perekat sekaligus memberi aroma. Campuran ampas kopi dan krimer inilah yang kemudian dioleskan ke rokok. Tentunya dengan dibikin halus, diharapkan kopinya bisa lebih melekat di rokok. Gak kebayangkan gimana kalau kopinya kasar, hehehe. Kalau pengalaman saya sendiri sih, rokok yang dilelet kopi itu secara rasa gak berubah, hanya aromanya (bau)aja yang lebih beda.

Memang kelihatannya kayak iseng-iseng aja ya Masbro Mbakbro. Tapi yaitulah namanya tradisi, berawal dari hal kecil dan sederhana, kemudian menjadi tradisi yang dilakukan banya orang. Tapi sekarang, Kopi Lelet juga udah dilombakan secara estetika, yaitu nglelet (oles) rokok dengan pola batik.

Sebagai info tambahan Buat Masbro Mbakbro yang kebetulan lewat Rembang, tepatnya Kecamatan Lasem (pantura). Masbro Mbakbro bisa beli bubuk Kopi Lelet di warung kopi Pak John yang udah melegenda. Lokasinya gambang kok, di Lampu Merah Masjid Raya Lasem, tinggal belok ke utara (ke kiri kalau dari arah Semarang) sekitar 50 meteran. Kalau Masbro Mbakbro lihat warung kopi sebelah kiri jalan warna merah dengan aksen putih hitam plus pengunjung yang rame (kalau nggak tutup, hehehe), hla itu tempatnya. Harganya pun terjangkau, terakhir saya kesana awal Februari 2014, harganya 22.500 rupiah per ¼ kilogram.

Warung Kopi Lelet Pak John yang melegenda (sumber)

Sampai disini dulu yah cerita tentang kopi khas daerah asal saya (Rembang). Harapan saya sih Kopi Lelet akan lebih dikenal masyarakat Indonesia lebih luas lagi. Dan tentunya tetap menjadi identitas Wong Rembang yang sederhana, tanpa harus ditumpangi hal-hal yang nggak baik semacam prostitusi, minuman keras, dll.

Selasa, 17 Desember 2013

Rembang, itu dimana ya?

Rembang Bangkit (Bahagia, Aman, Nyaman, Gotong-royong, Kerja keras, Iman, Taqwa) lengkapnya Masbro-Mbakbro, mungkin beberapa orang sudah tau eksistensi kota ini. Baik itu melalui media Internet seperti wiki, lewat pemberitaan di televisi, maupun lewat tokoh-tokoh yang berasal atau memiliki hubungan dengan Rembang seperti R.A. Kartini dan K.H. Mustofa Bisri. Tapi, masih banyak juga yang belum tahu hlo tentang Rembang.

Pengalaman yang sering saya rasakan selama kuliah di Bandung. Dialog yang sering saya alami.
Orang : "Aslinya dari mana A'?"
Saya   : "Dari Rembang?"
Orang : "Rembang teh dimana?"
Saya   : "Jawa Tengah Pak"
Orang : "Saya kok baru dengar ya?"
Saya   : "Hehe... iya Pak, dari Semarang 3 jam-an ke timur Pak, sebelah timurnya Pati"

Selain itu, kadang di berita Televisi juga memberitakan tentang Rembang. Tapi sayang banget Masbro-Mbakbro, beberapa pengisi suara berita masih salah menyebut Rembang dengan aksen 'Rémbang', yang bener itu 'Rèmbang' Masbro-Mbakbro. Makannya Masbro-Mbakbro, kali ini saya mau nyeritain Rembang, kota dimana saya dilahirkan dan tinggal dari kecil sampai SMA.

Geografi dan lokasi
Rembang itu salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah Masbro-Mbakbro. tepatnya berada di bagian utara dan timur. Bingung ya hehe, jadi posisi Rembang itu langsung bensentuhan dengan Laut Jawa dan sekaligus berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur (Kabupaten Tuban). Jadi otomatis Rembang itu dilewati Jalan Pantura yang legendaris itu Masbro-Mbakbro. Kalau Masbro-Mbakbro waktu pulang kampung dan lewat Pantura, bisa banget mampir di Rembang.

Batas Utara : Laut Jawa
Batas Timur : Jawa Timur (Kabupaten Tuban)
Batas Selatan : Kabupaten Blora
Batas Barat : Kabupaten Pati

Rembang dibagi menjadi empat belas (14) kecamatan, dengan Kecamatan Rembang sebagai ibukota kabupatennya.

untuk keadaan geografisnya Masbro-Mbakbro, di Rembang memiliki pantai, pegunungan kapur, dan juga persawahan. Iklim di Rembang kalau menurut saya cenderung panas Masbro-Mbakbro. Di Rembang itu jarang banget turun hujan. Padahal sebagian besar warganya bekerja pada pertanian, dan lebih parahnya lagi, di Rembang itu gak ada sungai besar yang airnya mengalir tiap tahun. Jadi di Rembang rata-rata sawahnya tadah hujan (mengandalkan sumber air dari hujan).

Penduduk
Penduduk Rembang kebanyakan berprofesi sebagai petani, kemudian nelayan, baru yang lainnya. Satu hal yang unik Masbro-Mbakbro, pekerjaan sebagai PNS di Rembang itu termasuk pekerjaan idaman, sudah wauw kalau bahasa gampangnya. Hal ini bisa terjadi karena memang perekonomian di Rembang cenderung masih tertinggal dengan daerah lain. Industri yang biasanya menjadi andalan suatu daerah masih sangat kecil di Rembang, kebanyakan di Rembang masih bersifat UKM atau industri rumahan. Setahu saya di Rembang industri yang baru masuk itu Pabrik Pengepakan Rokok dan Pabrik Semen (masih tahap pembangunan). Dengan kondisi ekonomi tersebut, pendapatan rata-rata masyarakat juga masih rendah. Jadi jangan harap di Rembang itu ada Mall seperti di kota-kota besar Masbro-Mbakbro.

Untuk pendidikannya sendiri Masbro-Mbakbro, di Rembang sudah termasuk baik sampai level SMA. Meskipun SMA-SMA pilihan masih terpusat berada di Kecamatan Rembang yang sekaligus ibu kota kabupaten. Selain itu, di Rembang juga terdapat beberapa pesantren yang eksistensinya sudah diakui. Untuk pendidikan setingkat universitas, itu yang masih ketinggalan Masbro-Mbakbro. Walaupun sudah ada sekolah tinggi, tetapi sebagian besar warga Rembang memilih kuliah di luar kota seperti Semarang, Solo, Yogya, sampai Bandung seperti saya ini Masbro-Mbakbro.

Wisata dan Kuliner
Rasanya kurang kalau gak bahas yang satu ini ya Masbro-Mbakbro, hehehe. Untuk wisata di Rembang itu termasuk lengkap Masbro-Mbakbro. Mulai dari wisata sejarah, wisata religi, maupun wisata alam. Dampo Awang Beach (dulu Pantai Kartini) salah satu yang paling terkenal. Selain karena berada di Kecamatan Rembang, tempat ini juga yang paling lengkap fasilitasnya. Di tempat ini pula tiap tahun, tepatnya seminggu setelah Idul Fitri diadakan acara Bada Kupat (Lebaran Ketupat). Wedeh, pokoknya rame. Ada juga wisata sejarah seperti Makam R.A. Kartini, Petilasan Sunan Bonang, dan Situs Kapal Kuno.

Mungkin hambatan sekaligus tantangan tempat wisata di Rembang yaitu Fasilitas, Pengembangan, serta Promosi yang kurang. Lebih detailnya mungkin akan saya ceritakan di postingan-postingan ke depan.

Seperti daerah lain di Indonesia, urusan kuliner di Rembang begitu beragam Masbro-Mbakbro, mungkin sebagai gambaran, makanan di Rembang cenderung pedas, gurih (banyak rempah), dan dengan olahan laut. Mulai dari sayur-sayuran seperti sayur lodeh, sayur asem, sayur merica. Kemudian yang cukup melegenda seperti Lontong Tuyuhan dan sate serepeh. Untuk jajanannya seperti tape ketan, dumbeg, sampai Kopi Lelet. Pokoknya banyak Masbro-Mbakbro. Dan yang lebih asyik, makanan-makanan tersebut masih banyak ditemui di pasar-pasar dan tempat umum yang harganya sangat terjangkau, belum ada itu yang namanya Brand-nisasi seperti yang lagi rame-ramenya di Bandung Masbro-Mbakbro, hehehe.


Mungkin itu sedikit gambaran tentang Rembang Masbro-Mbakbro. Sebagai Wong Rembang (Orang Rembang) saya selalu berharap semoga Rembang kedepan akan berkembang semakin baik. Perekonomian semakin maju, pendidikan mudah dijangkau. Dan tentunya lebih terkenal di mata orang Indonesia dan seluruh dunia (jauh amat, hehehe). Pokoknya yang baik-baik ajalah, hehehe.